Selasa, 31 Mei 2016

Akhlaqul Karimah dan kaitannya dengan fungsi hidup


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Rasulullah SAW dengan tegas telah menyebutkan misi utamanya dalam berdakwah. Misi utama tersebut tersurat dalam sebuah sabda beliau,
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Malik)
Seakan-akan misi kerasulan dalam sejarah kehidupan manusia dan tugas besar pembawanya untuk disebarkan kepada seluruh manusia tidak lebih hanya untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai luhur dan memberikan cahaya penerang ke arah kesempurnaan. Dengan demikian, manusia akan mampu berjalan lurus dengan menggunakan mata hatinya.
Dalam Islam, akhlak menempati posisi yang sangat penting, karena kesempurnaan Islam seseorang sangat tergantung kepada kebaikan dan kemuliaan akhlaknya. Manusia yang dikehendaki Islam adalah manusia ynag memiliki akhlak mulia, manusia yang memiliki akhlak mulialah yang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, dalam al-Qur’an banyak mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan akhlak, baik berupa perintah untuk berakhlak yang baik, maupun larangan berakhlak yang buruk serta celaan dan dosa bogi orang yang melanggarnya. Hal ini membuktikan betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam, karena akhlak yang baik (mahmudah) akan membawa kemaslahatan dan kemuliaan kehidupan.

B.       Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud dengan Akhlaqul Karimah
2.         Apa fungsi akhlak bagi kehidupan

C.      Tujuan
1.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan akhlakul karimah
2.         Untuk mengetahui apa fungsi akhlak bagi kehidupan
BAB II
Akhlaqul Karimah dan Kaitannya dengan Fungsi Hidup
A.      Pengertian Akhlaqul Karimah
Kata akhlak, secara etimologi berasal dari kata khuluk, jamaknya akhlak, yang berarti budi pekerti, sopan santun, tabi’at, dan kebiasaan baik.[1]
Sedangkan pengertian menurut terminologi yang dikemukakan oleh:
·         Ibnu Maskawaih:
Keadaan jiwa seseorang yang mendorong melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu).
·         Imam Al-Ghazali:
Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu).
            Kedua definisi tersebut, sekalipun redaksinya berbeda, tetapi substansinya adalah sama, yaitu bahwa akhlaq itu ialah sesuatu dalam jiwa yang mendorong seseorang berbuat dengan tidak melalui proses berfikir. Jadi, akhlaq merupakan kehendak yang dibiasakan, dan kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang itulah dinamakan akhlaq.[2]
Akhlak karimah merupakan suatu pengamalan yang bersifat ibadah di mana seseorang dalam perilakunya dituntut untuk berbuat baik terhadap Allah SWT dan berbuat baik terhadap manusia, juga terhadap dirinya sendiri, juga makhluk Allah yang lainnya.[3]

B.       Akhlaqul Karimah dan Kaitannya dengan Fungsi Hidup
Akhlak Mahmudah adalah sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat ini merupakan kelakuan yang seharusnya diamalkan dan dilaksanakan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari. Sifat-sifat ini disebut juga dengan sifat kesuksesan dan sifat membangun terhadap diri pribadi yang melaksanakannya, dan dengan mengamalkan sifat-sifat dimaksud akan mendapat posisi yang mulia baik pada sisi Allah maupun pada sisi manusia. Diantara  sifat-sifat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.        Amanah
Seorang mukmin hendaknya berlaku amanat, jujur dalam segala anugrah Allah SWT kepada dirinya, menjaga anggota lahir dan anggota bathin dari segala maksiat, serta mengerjakan perintah-perintah Allah secara permanen. Ini merupakan suatu jalan memperoleh kesuksesan, tidak saja dihadapan Allah juga pada akhirnya kawan dan lawan akan menghargai serta menaruh respek dan simpati yang baik.
Amanah dalam kaca mata Islam memiliki makna yang sangat luas dan mengandung pengertian yang sangat dalam. Ruang lingkup amanah mencakup semua gerak-gerik seseorang dalam segala urusan yang dibebankan kepadanya. Parameter amanah itu sendiri adalah adanya rasa tenggung jawab di hadapan Allah.[4] Hal ini sebagaimana keterangan yang telah disampaikan dalam riwayat hadits yang artinya.
“Masing-masing kalian adalah pemimpin. Dan masing-masing kalian akan mempertanggungjawabkan rakyatnya. Iman adalah seorang pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan rakyatnya. Seorang suami merupakan pemimpin di dalam keluarganya dan akan mempertanggungjawabkan rakyatnya. Seorang istri merupakan pemimpin di dalam rumah suaminya dan akan mempertanggungjawabkan sesuatu yang dipimpinnya. Pelayan merupakan pemimpin dalam harta tuannya dan akan mempertanggungjawabkan sesuatu yang dipimpinnya.”
            Banyak sekali orang awam yang menganggap remeh sifat amanah. Oleh karena itu, mereka mempersempit makna amanah dan meletakkannya di bagian paling akhir. Mereka hanya memaknai amanah sebagai upaya untuk menjaga barang titipan. Padahal hakikat makana amanah dalam agama Allah sangat besar dan sangat agung.    
            Di antara makna amanah adalah memperhatikan pancaindera yang telah dianugerahkan Allah, menyadari nikmat yang telah Allah diberikan, dan menganggap harta dan anak-anak tercinta yang dikaruniakan kepada seorang hamba sebagai anugerah. Kalau seorang hamba mau merenungkan semua itu, niscaya dia akan menyadari bahwa semua itu adalah titipan Allah yang sangat mahal. Oleh karena itu, semua anugerah, nikmat, dan karunia Tuhan harus dipergunakan sebagai media mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mencari ridha-Nya.[5]    
2.        Jujur
Perbuatan yang jujur adalah sebuah perbuatan yang tidak disertai dengan unsur keragu-raguan. Karena perbuatan yang jujur terlahir dari keyakinan, bukan barasal dari hawa nafsu. Kejujuran merupakan sahabat karib keikhlasan. Dalam kejujuran dan keikhlasan sama sekali tidak ada kecenderungan untuk menyimpang. Karena sumber kejujuran dan keikhlasan adalah kebenaran.
Berkata jujur akan mendorong seseorang untuk bertingkah laku secara jujur pula. Dengan demikian, kondisi kehidupannya akan lebih baik. Selain itu, keseriusan seseorang untuk memelihara kejujuran akan menyebabkan hati dan pikiran tenang. Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qä9qè%ur Zwöqs% #YƒÏy ÇÐÉÈ ôxÎ=óÁムöNä3s9 ö/ä3n=»yJôãr& öÏÿøótƒur öNä3s9 öNä3t/qçRèŒ 3 `tBur ÆìÏÜム©!$# ¼ã&s!qßuur ôs)sù y$sù #·öqsù $¸JŠÏàtã ÇÐÊÈ
70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar. (71) Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia Telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzab 70-71)
Jujur adalah alat untuk mencapai keselamatan, keberuntungan dan kebahagiaan. Dengan sifat jujur orang akan memperoleh predikat selalu dipercaya dan dijadikan teladan bagi yang lain. Banyak teman dan sahabat, perintahnya selalu dituruti orang dan segala perkataannya senantiasa diiyakan orang. Semua orang akan senang dan puas berhadapan dan bergaul dengan orang yang jujur, sebab mereka tiada khawatir akan terkecoh dan terpedaya. Dengan jujur  orang menempuh kehidupan dengan selamat. Sahabat yang baik adalah kejujuran, sebab ia mampu berdaya membawa kita kepada kebahagiaan karena itu wajiblah  berikhtiar agar memiliki sifat jujur, jangan mencoba untuk berdusta, sebab jujur adalah suatu jalan menuju surga sedangkan dusta kedalam neraka.[6]

3.        Rasa Malu
Islam telah berwasiat kepada penganutnya agar menghiasi diri mereka dengan rasa malu. Islam juga telah menjadikan rasa malu sebagai salah satu ciri khas misi ajarannya. Rasululllah SAW telah bersabda, yang artinya:
“Setiap agama itu memiliki ciri khas sebuah akhlak. Dan akhlak yang menjadi ciri khas agama Islam adalah rasa malu.” (HR. Malik)
Nabi SAW ingin menjadikan perasaan seorang muslim senantiasa tertarik kepada sifat yang mulia dan menjauhi sifat yang hina. Hendaklah semua itu dilakukan berlandaskan rasa malu, yakni malu kalau meninggalkan kebaikan dan malu kalau sampai mengerjakan keburukan sekalipun tanpa mempertimbangkan adanya pahala maupun siksa.
Orang yang memiliki sifat ini, semua anggotanya dan gerak-geriknya akan senantiasa terjaga dari hawa nafsu, karena setiap kali ia akan melakukan perbuatan rendah, ia tertegun, tertahan dan akhirnya tiada jadi, karena desakan rasa malunya, takut mendapat nama yang buruk, takut menerima siksaan Allah SWT kelak diakhirat. Dari itulah maka malu menjadi bagian dari iman. Malu yang disebabkan oleh watak iman akan menjadikan manusia senantiasa teguh bertakwa kepada Allah SWT. Karena, orang yang tidak punya malu akan mengerjakan apa saja yang dia inginkan.[7]
4.        Ikhlas
Ikhlas artinya murni atau bersih, tidak ada campuran. Maksud bersih disini adalah bersihnya sesuatu pekerjaan dari campuran motif-motif atau tujuan selain mencari ridha Allah.
Hati yang kehilangan unsur ikhlas tidak akan bisa menghasilkan amal perbuatan yang diterima oleh Allah. Hal ini sama dengan batu yang dibungkus tanah, selamanya tidak akan bisa menumbuhkan tanaman yang kokoh. Dengan kata lain, permukaan yang menipu sama sekali tidak akan memberikan manfaat pada bagian dalam yang juga tidak berkualitas baik.[8]
Semangat rasa ikhlas sedikit demi sedikit akan redup ketika jiwa manusia menginginkan pujian dari pihak lain, mengharapkan pangkat, dan menambahkan posisi di mata manusia. Sesungguhnya Allah hanya mencintai amal perbuatan yang bersih dari hal-hal yang kotor dan tidak murni karena-Nya. Allah SWT hanya akan menerima amal perbuatan hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan hanya menerima amalan yang dipersembahan kepada-Nya. Adapun hal-hal yang bersifat duniawi, maka sama sekali tidak ada artinya di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak memandang penampilan fisik dan rupa kalian. Namun Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa begitu tinggi makna keikhlasan dan begitu berlimpah berkahnya. Sesungguhnya keikhlasan mampu mengembangkan sesuatu yang sedikit menjadi banyak sampai seberat gunung. Sementara sesuatu yang sangat banyak bisa hampa apabila tidak disertai dengan keikhlasan dan tidak akan diperhitungkan sedikitpun disisi Allah SWT. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, yang artinya
“Murnikan lah agamamu, maka amalan yang sedikit akan mampu mencukupi dirimu.” (HR. Al-Hakim)
5.        Merasa Cukup (Qana’ah)
Qana’ah artinya menerima dengan rela apa yang ada atau merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya. Qana’ah bisa dicapai dengan terlebih dahulu mengendalikan nafsu. Qana’ah bukan berarti duduk berpangku tangan, menganggur tanpa berusaha, qana’ah tidak identik dengan kemalasan.[9]
Qana’ah mengandung enam unsur yaitu:
1.         Berusaha sekuat daya (Ikhtiar atau usaha)
2.         Memohon tambahan nikmat yang pantas kepada Allah SWT
3.         Ridha Menerima apa adanya
4.         Sabar menerima ketentuan Allah SWT
5.         Tawakal kepada Allah SWT
6.         Tipu daya dunia tidak akan mampu mempengaruhinya[10]
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Najm ayat 39
br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy ÇÌÒÈ
“ Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,”.
Sungguh beruntung, bagi bagi orang yang memiliki hati qana’ah, hidupnya tenang, bila mendapat nikmat ia bersyukur dan bila mendapat musibah, ia sabar. Ia tidak cemburu ketika melihat nikmat orang laindan tidak pula berputus asa ketika dirinya kurang. Hati tidak mudah stres, tidak goyah karena materi dunia, sebab ia yakin, yang dinamakan kaya tidak semata-mata pada harta kekayaan yang banyak, tetapi kekayaan itu juga ada pada orang-orang yang memiliki ghina al-nafs (kaya jiwa).[11]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Islam menginginkan suatu masyarakat yang berakhlak mulia. Akhlak mulia ini sangat ditakankan karena disamping akan membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain bahwa akhlak utama yang ditampilkan seseorang, tujuannya adalah untuk mendapatkan kebaghagiaan di dunia dan di akhirat.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Terjemah
Abd. Gani Isa, Akhlaq Perspektif Al-Qur’an, Banda Aceh: Arraniry press dan NASA, 2012
Ana Suyana, Materi Pendidikan Agama Islam, Tasikmalaya: STAI, 2007 
Damanhuri, Kawasan Ilmu Akhlak, Banda Aceh: Arraniry Press dan  NASA, 2012
Khalil Al-Musawi, Terapi Akhlak, Jakarta: Zaytuna, 2011
Syaikh Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, Jakarta: Mustaqim, 2004




[1]Abd. Gani Isa, Akhlaq Perspektif Al-Qur’an, (Banda Aceh: Arraniry press dan NASA, 2012). hlm 9  
[2] Abd. Gani Isa, Akhlaq Perspektif Al-Qur’an,.... hlm 10-11
[3] Ana Suyana, Materi Pendidikan Agama Islam, (Tasikmalaya: STAI 2007).  hlm 73
[4] Syaikh Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Jakarta: Mustaqim 2004). Hlm 83
[5] Syaikh Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim.... hlm 92
[6] Damanhuri, Kawasan Ilmu Akhlak, (Banda Aceh: Arraniry Press dan  NASA 2012). Hlm 173
[7] Khalil Al-Musawi, Terapi Akhlak, (Jakarta: Zaytuna, 2011). Hlm 49
[8] Syaikh Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim..... hlm 131
[9] Abd. Gani Isa, Akhlaq Perspektif Al-Qur’an,.... hlm 126
[10] Damanhuri, Kawasan Ilmu Akhlak,... hlm 40
[11] Abd. Gani Isa, Akhlaq Perspektif Al-Qur’an,..... hlm 127